Tulisan Untuk Valentine - Yang Terlupakan

 


Sejatinya, aku sudah lupa. 
Tapi kupikir lagi, semua cerita ini nyata terjadi dan mungkin layak untuk ku apresiasi.
Jadi, kutulis kembali beberapa cerita tidak bermutu tentang orang-orang yang dulunya berkontribusi, dan mungkin satu-dua dari mereka pernah kucintai hidup dan mati. Wew. Berlebihan sekali.
Tentu, ini tentang mantan. Mantan yang mana?
Ya, semua. Toh mereka memberikan sumbangsih berupa kenangan baik dan kepahitan hidup dalam waktu bersamaan hahaha. 


Aku pernah punya mantan. 
Dia seorang vokalis. Suaranya lumayan. Skill bermain gitarnya kuberi nilai 7.5.
Banyak sekali perempuan cantik yang suka padanya. Mungkin saat itu dia rabun, dia memilih aku.
Kenapa? Karena katanya, aku pengertian dan tidak pernah rewel saat dia bersenang-senang bersama brothers-nya, serta tidak pernah ngambek saat dia menghilang seharian untuk main bola..  
Kita berpisah dengan sangat baik. Sampai sepuluh tahun kemudian, kutemukan akun sosial medianya masih menggunakan nama panggilan yang dulu kuberikan, yaitu singkatan nama kami berdua. Dasar bodoh...


Ada juga mas-mas lucu yang tinggal dekat rumahku. Dia sangat manis dan dewasa. Dengan ketulusannya, dia menemaniku melewati kelulusan SMA dan persiapan menuju kuliah. Tidak ada yang istimewa, sampai saat ibunya bercerita bahwa setiap malam dia tahajud dan berdoa serta membacakan QS Yaasiin selama 3 bulan berturut-turut demi aku bisa diterima di universitas ternama. Sialnya, aku yang bodoh ini memutuskannya setelah aku diterima. Tidak apa, kamu berhak mendapat yang terbaik, Mas..


Ada seorang lagi. Dia bukan siapa-siapa.
Bukan anak basket, anak band, ataupun pemain bola.
Tapi mukanya ganteng luar biasa. Tipe tipe idola remaja.
Dia pernah bilang. "Jadi pacarku ya. Tapi jangan sekali-sekali kamu bohong. Sekali saja kamu ketahuan, aku enggak mau liat kamu lagi."
Waktu itu kubilang iya.
Selang beberapa bulan, aku berbohong padanya. 
Kubilang aku pergi les, padahal aku menonton konser sampai malam.
Dia marah sekali. 
Dia pergi membawa seluruh kegantengannya.
Sampai saat ini, aku tidak pernah melihatnya lagi.
Dan sampai saat ini juga, aku tidak berani berbohong lagi.



Ada lagi. Ini tentang seorang mantan yang cukup menarik.
Dia sangat manis, lucu, dan setia
Waktu itu dia pergi ke suatu negara bersalju.
Dia naik ke atas bukit, menulis namaku di atap rumah orang yang tertimbun salju, lalu membuat video super keren yang diambilnya dari atas gondola.
Serius, aku hampir menangis  menonton video itu saking manisnya.
Haha, kupikir saat itulah pertama kalinya aku jatuh cinta.....
Setahun berlalu, dia kembali ke tanah air.
Aku menjemputnya di bandara, membawakannya bunga.
Rasanya seperti mimpi melihat dia berdiri tersenyum dihadapanku, membawakanku buket bunga yang hampir sama. 
Dia tidak berkata apa-apa.
Hanya memberiku sebuah pelukan panjang, sambil berbisik,
"Aku pulang.."




Aku juga punya kisah dengan seorang pria yang cukup dewasa. Sepuluh tahun diatasku. 
Dia lugu, manis, dan baik hati.
Dia memasak untukku.
Menjemputku saat hujan deras,
Menyetir semalaman untukku.
Menggendongku di punggungnya saat menonton konser
Melarangku jajan sembarangan dengan dalih saosnya mengandung belatung.
Menceramahiku tentang pentingnya membawa jaket saat musim hujan
Dan merapikan barang bawaanku setiap kali kita bepergian.
Ketika dia pergi, aku berantakan sekali...
Yang kuingat, terakhir dia menangis didepanku lamaaaaaa sekali. 
Setelah itu, aku tidak pernah melihatnya lagi.
Tiga bulan berlalu setelah dia pergi, rasanya masih sama. 
Aku tetap terpuruk tanpanya, dan dia masih saja kurindukan.



Aku juga pernah berpacaran dengan orang yang umurnya sebelas tahun diatasku.
Entah dia yang pedofil, atau aku yang mengidap oedipus complex. Haha.
Badannya kotak-kotak dan terbentuk. Trisepnya menggetarkan jiwa.
Setiap hari dia meneleponku lebih dari empat jam, tanpa sedikitpun kehabisan bahan obrolan.
Mulai dari cara genosida yang ampuh, jumlah oktan yang terkandung dalam bensin eceran, juga tentang konspirasi zionis Israel.
Sampai akhirnya dia mengakui bahwa dia juga penyuka sesama dan hanya menyayangiku seperti adiknya. 
Dan dia masih sempat bertanya, apakah aku marah? 
Hahhh, ya menurut ngana saja.


Ini cerita tentang mantanku yang super pintar. 
Lulusan terbaik, dan mampu menyelesaikan hitungan rumit dalam kecepatan cahaya.
Saking pintarnya, dia menolak semua hal yang abstrak. 
Terimasuk aku dan ideku, yang dianggapnya pengaruh paling abstrak dalam hidupnya. Haha. 
Dalam satu masa, ketika aku berulang tahun, dia membawaku ke sebuah kedai kue, lalu berkata,
"Pilih kue mana saja yang kamu suka, tulis sendiri ucapannya. Ini kartunya, aku mau kerja."
Aku seperti orang bodoh didepannya. 
Dia pergi karena dia pikir aku bodoh.
Dan tentu saja kubiarkan dia pergi karena aku tidak bodoh.


Cerita lain tentang mantanku(?) yang hingga detik ini masih kusayangi setulus hati. 




Hahh, selesai!
Persoalan mantan memantan memang luar biasa peliknya. Mungkin mereka masuk dihidupku untuk menjadi seorang filsuf, yang mengajarkan esensi esensi tidak berguna berupa kepahitan hidup.
Yahhh, yang sudah, biarlah musnah. 
Mari menjadi orang yang seribu kali lebih manis daripada hari ini. 


Penuh Cinta,
-M-



Comments